Pulang? Pulang kemana ?


Identitas menjadi masalah untukku. Terlahir dari sepasang  orangtua cina asli bukanlah pilihan. Merupakan suatu kebetulan yang diatur. Ah, tapi memang tidak ada kebetulan didunia ini, segala sesuatunya memang sudah  “diatur“ . Mengapa kukatakan identitas ini menjadi masalah? Karena aku tak bisa menjelaskannya.  Ketika itu aku masih kecil, masih berusia 12 tahun pada masa orde baru berkuasa.

 

Kala itu jika senja telah tiba di daerahku. Dulu aku belum tinggal di Jakarta seperti sekarang.  Kampungku ini di kota Blitar desa Prawirejo tepatnya. Tepat menjelang  maghrib pukul enam , anak-anak dari kampung seberang yang jauh beramai-ramai pergi ke masjid melalui kampung kami. Kerap kali aku dan kakakku itu diteriak-teriaki oleh kata-kata seperti  “ cina….cina…ayo pulang !!“ dan kadang-kadang pula kami  dilempari batu kerikil. Sehingga aku selalu merasa bahwa pukul enam sore itu sudah  harus masuk rumah.

 

Peraturan Pemerintah No 10/1959 mewajibkan semua pedagang eceran Cina harus menutup usaha di wilayah pedalaman Indonesia. Hal ini membuat geger keluarga kami. Orangtuaku nyaris memilih untuk  “Pulang“ kembali ke Cina. Namun apa artinya pulang bagiku, dan bagi keluargaku, dulu dan sekarang?

 

Bapakku kala itu sudah bersiap-siap. Ia  telah memanggil penjahit keluarga untuk membuatkan baju musim dingin untuk semua anggota keluarga kami.  Aku yang masih bocah, bungsu  dari 5 bersaudara hanya bisa menuruti tanpa bertanya kenapa.  Pertanyaan-pertanyaan itu aku pendam saja. Aku tak ingin membebani pikiran kedua orangtuaku. Aku berfikir, “pulang, pulang kemana kita? Bahasa Cina saja saya nggak ngerti.“ Tapi ayah telah membeli kain tebal-tebal dan memanggil penjahit itu.  Kami memang akan pulang, tapi tidak tahu kemana.  Sekitar bulan Mei di tahun 1998 kami hendak bersiap untuk  “pulang“  kami sudah bersiap meninggalkan kota Blitar dan menuju pelabuhan di Surabaya. Namun ketika hendak meninggalkan Blitar, rupanya pasukan khusus pemberantas kaum etnis telah tiba terlebih dahulu. Bapakku yang baru mengetahui hal ini menyuruh kami sekeluarga untuk lari ke hutan di desa dan bersembunyi. Seketika kami pun berlari sesuai dengan perintah bapak, menerobos hutan bambu di subuh buta  bukanlah hal yang mudah. Berulang kali tanganku yang memegang sebuah tas hitam yang berisi pakaian dan beberapa mainan yang akan dibawa untuk  “pulang“ tergores oleh dedaunan bambu yang sedikit berduri. Tak jarang mengeluarkan darah pula. Aku tak tahu apa yang terjadi.  3 hari di dalam hutan. Bersembunyi.

 

Aku jadi  selalu teringat oleh perkataan almarhum ibuku . Dalam kesempatan kami bepergian ke tempat yang baru, selalu saja kalimat yang ia ucapkan itu “disini aman“. Kata-kata itu terucap gara-gara melihat ada orang Cina di tempat itu. Hingga saat ini kuberfikir, apakah ia merasa aman karena ada sesama Cina? Apakah ada penanda bagi jaminan keselamatan dan suasana aman karena (masih) ada Cina disana? Mungkin ibuku berfikir jika disitu orang Cina tampak terterima dan terbukti survive maka bisa dikatakan aman. Apakah kata-kata itu hanya kamuflase bagi rasa tak aman karena identitas Cina yang tak bisa disangkal ?

 

Beranjak remaja bahkan aku pernah merasa ketakutan tak bisa menjadi bagian dari “Indonesia“.

Karena kalau bukan Indonesia, di mana tempat untukku ? aku masih mencari  “indonesia“ dalam diriku dan diriku sendiri di dalam “Indonesia“ itu sendiri. Aku harus menyangkal sesuatu untuk menjadi seorang  “ indonesia“ , namun tak tahu harus menyangkal apa. Dan baru belakangan ini pula kutahu apa yang terjadi ketika aku bersembunyi di hutan itu. Sebuah masa  kelam bagiku yang tak ingin kuingat. Pembantaian pada kaum etnis Cina di daerahku. Pemerkosaan pada perempuan.  Penjarahan dan segala macam bentuk tindakan asusila yang mereka lakukan. Hal yang marak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera dimana populasi etnis Cina pesat di daerah tersebut.

 

Dan rencana untuk “pulang  “itu pun tidak terlaksana. Bapak memilih agar kami kembali lagi ke Blitar. Namun ke kampung yang berbeda, hanya sementara hingga kondisi dinilai aman. Jika jadi pun, hendak pulang? Pulang kemana ?

 

(didedikasikan untuk Phouw Hong Boen (Fransiscus Xaverius Sumarsono), the greatest grandfather)

Advertisements

6 thoughts on “Pulang? Pulang kemana ?

  1. siapa blg cina itu gak boleh……
    malahan sekarang mentri dari cina……..
    aku kakek jg ada darah cina…..
    cina indo…
    dunkz…..
    mudah2an mujur kyk cina jg…
    he3x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s