Ketika Idealisme Menggeserkan Nurani.


 

Sebuah Tsunami yang melanda Jepang bagian utara menggemparkan perhatian dunia internasional. Beribu kerugian dialami oleh Jepang dan belum lagi dampak atas melayangnya korban jiwa dan rasa traumatik dari penduduk negara Jepang. Kini,Jepang sedang berada dalam titik pemulihan akan tetapi dalam berita haru tentang hal ini muncul sebuah kabar bahwa PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di daerah Fukushima mengalami kebocoran. Keadaan ini telah membuat dunia internasional kalang kabut bahkan sang negara adikuasa pun geger dengan berita ini. Bagaimana tidak,kebocoran nuklir merupakan ancaman terbesar bagi makhluk hidup di bumi. Limbah Chernobyl mampu meradiasi makhluk hidup dampaknya tidak akan terasa sekarang,namun seseorang dengan radiasi chernobyl di dalam tubuhnya sudah tentu akan mengalami perubahan secara gen yang akan berdampak pada jangka waktu tertentu.

Nah,tadi adalah ulasan sekilas mengenai peristiwa Internasional terkini yang sedang ramai menajdi perhatian publik namun saya tidak akan membahas tentang gempa di Jepang melainkan tentang penggunaan bahan energi alternatif dunia. Untuk saat ini,negara-negara di dunia sekitar 35% saja yang memakai energi bersih sebagai energi alternatif. Yang menjadi favorit sebagai sumber energi adalah minyak bumi,batubara,gas alam,panel surya dan nuklir. Minyak bumi menyumbang pasokan listrik dunia sebesar 35%, batu bara menyumbang 40% kebutuhan pasokan listrik dunia,gas alam sebesar 15%,panel surya sebesar 4% dan sisanya sebesar 6% untuk energi alternatif nuklir.

Sebenarnya berapa banyak kita dan planet kita ini merugi akibat pemakaian bahan bakar kotor di dunia? Saya akan jawab BANYAK SEKALI,seperti misalnya batu bara,memang batu bara merupakan bahan bakar termurah dibandingkan alternatif lainnya namun batu bara memberikan dampak yang sangat tidak ekologis terhadap lingkungan. Jika anda pernah datang ke kota Cilacap saya sarankan anda menengok sebuah perumahan yang bernama Griya Kencana yang terletak tidak jauh dari PLTU Cilacp dan perhatikan apa yang terjadi disana. Sebagian besar penduduk telah pindah dikarenakan suara berdengung yang terus menerus dan cemaran debu dari PLTU. Selain itu,kesehatan (terutama keseghatan paru-paru) sangat rentan sekali,anak-anak kampung sekitar memiliki kesamaan yang sama: batuk yang terus menerus yang sangat mungkin disebabkan oleh pencemaran udara dari PLTU.

PLTU ini terletak di dekat pesisir yang merupakan tempat meraih nafkah sebagai nelayan bagi warga sekitar. Beberapa warga mengaku sejak proyek beroperasi,hasil tangkapannya turun hingga separuh. Ini adalah contoh dari betapa tidak matangnya pemerintah dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan energi. Dalam perencanaan pembangunan proyek,mereka HANYA memikirkan dampak dalam jangka pendek bukan jangka panjang. Padahal sekarang kita bisa melihat jelas berapa biaya yang sebenarnya dari proyek-proyek ini.

Pernah suatu ketika saya dan teman-teman dari Solar Generation kota Bandung mengadakan kampanye penggunaan energi bersih di car free day pada tahun 2010 di kota Bandung,kami memasang spanduk-spanduk besar yang bertuliskan: NO NUKE NO COAL,GO RENEWABLE ENERGY NOW! Dan nampaknya hal ini menarik perhatian dari mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan Minyak dan Bumi (FTTM) dari sebuah institut besar di kota Bandung,kami berdiskusi ringan soal mengapa,apa dan kenapa batu bara sangat kami “haramkan”. Dalam hati saya selalu berpikir apakah manusia tidak terlalu arogan terhadap alam semesta dan bahkan terhadap tuhan? Jelas dan nyata dalam sebuah firman Allah mengatakan: “Kelolalah dengan baik apa yang terdapat di darat,laut dan udara,karena sesungguhnya aku ciptakan untuk kau pelihara!”

Karena begini,kita selalu berdalih tidak mampu,terlambat atau bahkan terlanjur untuk merubah dan berubah menjadi lebih baik. Terutama bagi bangsa kita yang dibilang kaya akan sumber daya alamnya namun miskin dalam pengelolaanya,sungguh berkat Allah yang mubazir. Pemerintah dan kita selalu berdalih tidak ada biaya atau buat apa ngurusin masalah energi toh gua masih enak-enak aja tuh nikmatin listrik gua masih bisa bayar.

Oke,tapi sampai kapan sih kepentingan ekologi tergerserkan oleh kepentingan ekonomi. Saya mengerti dan paham bahwa prinsip ekonomi adalah praktis dan menekan biaya produksi seminim mungkin dengan daya jual yang tinggi di pasaran. Namun,pernahkah berpikir akan dampak dan biaya yang tidak terhitung saat ini,bagaimana dengan penyakit? Bagaimana dengan kehancuran lingkungan atau bagaimana dengan perubahan iklim? Seperti halnya para pekerja PLTN di Fukushima dan pemerintah Jepang yang sekarang sedang kalang kabut dengan kebocoran radiasi nuklir,apakah pernah?

Terkadang kita perlu mengetahui batas-batas kewajaran,walaupun kita mampu. Einstein pernah berkata: “Pengetahuan tanpa agama sama dengan kesesatan”. Saya setuju dengan hal ini,terkadang ketika kita mempertahankan idealisme kita baik sebgai seorang ilmuwan,dan bahkan manusia sendiri kita terkadang lupa akar darimana kita berasal,untuk apa tuhan menciptakan dan meniupkan roh kita kedalam janin yang berusia empat bulan yang nantinya akan menjadi seorang makhluk hidup jika bukan untuk menjadi sebaik-baiknya khalifah dan hamba Tuhan di bumi.

Advertisements

13 thoughts on “Ketika Idealisme Menggeserkan Nurani.

  1. Akhirnya balik juga tulisanmu yang hangat dan kritis ini. kelamaan mati suri lo!
    okey by the way,gua juga sering mikir yang sama kaya elu,apa kita yg terlalu egois?
    sering loh di film2 kita lihat para orang2 yg tergeser nuraninya oleh idealisme ga keliatan kaya manusia :O

    1. Hehe..maaf,masa transisi bung..
      okey bek tu topik,yah bukannya saya ngejudgje kalo yng namanya ilmu pengetahuan tuh ga baek.
      tapi yang namanya sesuatu yg berlebihan tetep ga bagus kan? intinya kita harus tau kalau kita itu manusia.
      kita memang boleh menuntut sebuah perubahan demi hal yg lebih baik tapi tetep kita harus lihat dulu siapa kita.
      (halah ngebacot urang)

      1. setuju! sesuatu yang berlebihan memang ga baik.
        ah,emang tabiat orang negeri kita yg selalu ngerasa “susah”

    1. terimakasih atas kunjungannya andirha 🙂
      silahkan boleh,asal cantumkan sumbernya ya..
      ayo mampir lagi dan beritahu teman-teman 😀

  2. Bumi diciptakan memang tidak hanya untuk dipelihara, tapi juga dimanfaatkan.
    Tapi menurut saya, Pemanfaatan yang berlebihan justru membuat manusia menjadi malas dan enggan memikirkan solusi alternatif.
    Paradigma berpikir seperti inilah yang sepertinya harus diubah dari orang orang Indonesia, saya harap Indonesia dapat secepatnya mengembangkan energi alternatif, Percuma ngelola SDA, pengelolaannya ga ada yang bener, yang ada eksploitasi berlebihan, kalo udah diambil sama perusahaan asing malah ngomel ngomel , Sampe tua yang dipermasalahin duitnya bukan lingkungannya..
    Lantas, energi alternatif apakah yang kira kira cocok untuk dikembangkan di Indonesia?

    1. Yup,setuju sama bung Bintang (eniwei makasi sdah sudi mampir)
      karena itulah sampai kapan kepentingan ekologis mau tergeserkan kepentingan ekonomi?
      saya pun berharap hal yg sama,perubahan yg lebih baik dalam moral dan mental bangsa Indonesia.

      soal energi yg cocok di Indonesia,saya pikir untuk tempat pertama saya berikan kepada energi geothermal alias panas bumi,hal ini sangat didukung dengan banyaknya titik2 gunung berapi di Indonesia khususnya pulau jawa. untuk daerah pesisir bsia menggunakan energi kincir angin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s