N Y A W A


Senja menyayat. Aku berjalan pulang dari rumah seorang kawan lama. Rasa-rasanya semua keringat dan bau apek menempel lekat di tubuhku. Ingin rasanya segera pulang. Terlebih lagi,jalanan yang mulai ramai dengan deru mesin dari kendaraan besi-besi itu. Produk revolusi industri di tahun 20-an. Namun indahnya senja yang angkuh menggantung di langit sana seolah menertawakan aku dan puluhan manusia yang sudah lepek seperti kertas tisu basah. Ya,senja itu angkuh namun tenang dan tak ada yang mampu menandingi keindahannya. Setianya ia menggantung di atas sana,menemani sore kami,dan menjadikannya lebih indah sehingga kami mampu mengucap subhanallah.

Kuputuskan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat,dan duduklah aku di sebuah halte bus yang sepi. Puluhan kendaraan per menitnya melewat begitu saja dihadapanku. Pikiranku mengawang dan berfikir bagaimana rasanya menjadi langit. Bagaimana rasanya melihat benda-benda ini dan manusia-manusia yang merayap di bawah langit. Apa yang dia pikirkan atas asap-asap racun yang keluar dari benda-benda sampah itu ? Apakah langit akan murka dan mengutuk manusia pengendali benda-benda itu? Jika saja dia bisa bicara,mungkin manusia tak lagi egois dan menganggap langit hanyalah hiasan,sekedar pemanis. Dasar..manusia. Ada-ada saja alasannya.

Sejauh mata memandang,hanyalah mesin-mesin besi sampah yang merayap di jalanan dan juga para pejalan kaki seperti aku. Kasihan pejalan kaki,mereka harus berebut lahan untuk berjalan dengan pedagang kaki lima dan juga sepeda motor yang usil berjalan di trotoar. Sempat terlintas keinginanku untuk menyenggol sepeda motor itu. Biar tersungkur dia jatuh! Dasar makhluk maruk,serakah,egois! Lagi-lagi manusia. Ckckckckck….

Jika satu kendaraan besi-besi sampah itu berisikan dua atau empat orang ,dikalikan dengan jumlah kendaraan yang melintas dihadapanku per-menitnya lalu ditambah dengan pengguna sepeda motor,tak terhitung berapa banyak polusi dan nyawa yang melintas di jalanan ini setiap harinya. Rasa-rasanya kalau tidak salah,penduduk dunia sudah mencapai enam milliar jiwa! Angka yang fantastis. Ledakan populasi diakibatkan perang dunia sudah berakhir. Yang kutahu dimulai pada awal tahun 90-an (di Indonesia).

Merasa sudah cukup beristirahat,aku pun beranjak dari halte. Sampai suatu saat aku mendengar suara kemerosok. Seperti sesuatu yang bergerak-gerak. Aku pun mencari darimana sumber suara itu,dan ternyata berasal dari tumpukan sampah-sampah yang terletak disamping belakang halte. Posisinya memamng terhalangi oleh sebuah betontiang penyangga untuk aliran kabel listrik. Dengan penuh rasa penasaran aku pun mendekati tumpukan sampah itu dan….. Astagfirullah  aku terperanjat sejadi-jadinya. Ternyata suara kemerosok itu datang dari seorang manusia!

Aku tidak percaya atas tubuh yang terletak dihadapanku. Manusia! Seorang manusia hidup di antara timbunan sampah di salah satu jalan di kota Bandung! Dia seorang nenek tua yang tunawisma. Lusuh,kucel,tatapannya nanar,dan renta. Kakiku gemetaran melihatnya. Bukan karena aku takut,namun karena rasa ironi menyergap tubuhku. Dengan perasaan yang tidak karuan,aku dekati nenek tua itu. Langsung aku merogoh air mineral dari tasku dan sekerat roti yang kubawa pulang sehabis dari rumah kawan lamaku itu. Ketika beliau menerimanya,aku pun lantas pergi. Berjalan dengan setengah berlari menjauhi tempat itu dengan perasaan yang tidak karuan. Rasanya seperti telah menghadapi kenyataan yang tak ternangguhkan. Begitu banyak manusia-manusia yang melintas. Namun mengapa hanya sedikit yang sadar atas kehadiran nenek tua itu?

Sesampainya dirumah,perasaanku masih berkecamuk. Aku marah,kesal,sedih dan kecewa atas kenyataan yang aku lihat tadi. Sadarkah kau kawan? Dia! Nenek tua itu, adalah makhluk yang bernyawa! Namun diperlakukan tak layak seperti halnya sampah. Mungkin bukan hanya dia,dan bahkan ada jutaan di dunia ini yang bernasib seperti nenek tua itu. Mereka adalah manusia yang ber N-Y-A-WA. Salahkah mereka jika nasib mereka buruk? Patutkah kita memandang mereka rendah hanya karena status sosial? Aku menyumpahi mereka yang ongkang-ongkang kaki di DPR ! dan manusia-manusia yang antipati terhadap mereka, golongan manusia yang termarginalkan oleh sistem. Dikihianati nasib!  ditipu oleh makhluk sesamanya,dirampas hak-haknya oleh pemimpinnya!

Manusia hadir di dunia karena keinginan yang dimana dia lahir beserta nyawa dan mereka adalah M-A-N-U-S-I-A yang ber N-Y-A-W-A! Sama seperti kita. Namun mengapa kita,manusia memalingkan kepala kita atas kehadiran mereka. Berapa banyak lagi nyawa yang harus menderita sampai akhirnya kita mau peduli kepada mereka? Kita hadir di dunia dengan sama-sama merengkuh nyawa. Namun mengapa,mereka yang termaginalkan dianggap hanya sebatas angin lalu dan bayangan saja? Alam semesta dan kebodohan manusia. Hal yang sama-sama tak terbatas. Adakah keajaiban itu, Tuhan?

Advertisements

2 thoughts on “N Y A W A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s