Siapa? Siapa? Siapa yang Salah?


“After much research, consideration, and experimentation, I conclude that romance is not for me.” Jemarinya meng-klik opsi post dan terbitlah status update di laman facebook pribadinya. Sebenarnya ini hanya upaya justifikasi atas segala kegagalan romantika yang melandanya. Dalam hati masihlah dia berharap, apa boleh bikin, kenapa mereka-mereka tidak kunjung menyambut perasaannya.

Diletakkan ponselnya setelah mengupdate status di laman facebook, kedua tangannya diletakkan menyilang diatas dahi. Dia tak habis pikir,dia mengingat kejadian minggu lalu disebuah kafe yang cukup nyaman seandainya saja tidak dilakukan perbaikan jalan di depannya. Namun apa boleh buat, si empunya yang dia ajak ketemu tidak mau pertemuan di mall yang padahal cukup dekat dengan lokasi rumah mereka. Takut bertemu kawan,katanya. Apakah aku ini memalukan ? Sampai-sampai harus bersikap seperti itu,begitu pikirnya.

Aku yang mengajak dia bertemu waktu itu, ini sebuah kesalahan. Well,sisa sore itu yang merupakan sebuah kesalahan,ucapnya dalam hati.

“Kamu punya pertanyaan kan? Tidak mungkin kamu mengajak bertemu kalau tidak ada apa-apa.” Ucap laki-laki yang ia temui sore itu.

“Aku hanya ingin bertemu, mendengarkan kamu bicara tentang apa saja,sudah itu saja.” ucap dia dengan berusaha tak acuh.

“Serius, ada sebuah pertanyaan yang mondar-mandir di kepalamu kan?”

“……ini bukan topic yang kamu suka. Kita sama-sama tahu kamu menghindari,hal ini, oke?”

“Katakan saja” ucapnya mantap. “Sini tulis dibuku saja.” laki-laki itu menyodorkan buku dan pena.

Merasa ragu dia pun menulis dan menyodorkan bukunya kembali ke laki-laki itu sambil berkata “dibacanya nanti ya, setelah kamu pulang.” Namun laki-laki itu segera membacanya. Terdapat tulisan dengan tinta warna hijau diatas kertas putih itu :

What if I like you,Al ?

Laki-laki itu tersenyum puas dan berkata “ dunia ini indah,bukan?”

Ingatan terhenti disitu, tangannya yang tadi sekedar menempel di dahi kini mengacak-ngacak rambutnya. Sudah! Tak usah diingat lagi! Perintahnya dalam hati. Seakan-akan dengan berbuat begitu otomatis memorinya akan terhenti.  Ia menghempaskan tubuhnya diatas kursi berlengan panjang dan empuk itu. Matanya menatap langit-langit namun isi jiwanya sedang kemana-ana. Menerawang sebuah bentuk asbtrak. Pikiran yang abstrak

Ia tak habis pikir berapa kali ia sudah jatuh cinta terhadap orang yang salah? Tidak, apakah sebenarnya rasa cintanyalah yang salah ? Dari dahulu ia diajari kalau sesuatu tak berjalan mulus pasti ada yang keliru. Dalam masalah cintanya, siapakah yang keliru? Apakah perasaan ini keliru? Ataukah orang yang dicintainya keliru ?

Laki-laki itu yang ditemuinya minggu lalu, meyakinkan tidak akan ada yang berubah, namun janganlah kau membohong kepada perempuan. Terlebih lagi perempuan itu adalah ia, perempuan yang peka dan halus perasaannya meski berbanding terbalik dengan penampilannya yang gemar memakai kaus,celana jins, kemeja dan gemar kali menenteng ransel. Dari sisi penampilan bolehlah dibilang boyish namun dalam hati tetaplah ia perempuan. Karena sesuatu telah berubah darimu, dari bagaimana sikapmu. Dan tak kurasa hal itu menuju hal yang baik, ucapnya dalam hati.

Baginya masalah perasaan ini rumit, ia tahu tak ada yang sempurna dari lelaki yang dicintainya itu. Cinta baginya adalah komitmen. Sikap berusaha saling mengerti sifat satu sama lain dan berkembang bersama-sama menjadi manusia yang lebih baik dengan saling mendukung satu sama lain. Jatuh cinta baginya bukan perkara mudah, ia tidak terbiasa dengan omong kosong, ketika ia memutuskan untuk peduli maka ia benar peduli. Namun sayang, ndak semua orang bisa mengerti itu.

Ini salahku menjadi sosok yang tidak ia sukai. Sosok yang gendut, tidak berpenampilan seperti perempuan yang lainnya, yang gemar memakai make-up, menata rambut, memakai baju-baju manis dan  yang tertawa dengan mulut terkatup sedikit sambil ditutupi dengan sebelah tangan.  Mungkin salahku,pikirnya.

Memang mudah untuk menyalahkan sesuatu ketika suatu hal tidak berjalan mulus. Terlebih lagi ketika laki-laki itu mengira bahwa ia terobsesi dengan laki-laki itu. Cih,kamu tidak mengerti pandangan filosofisku dalam mencintai kamu. Bagaimana aku selama ini bergelut melawan perasaan ini, sebuah perasaan yang berusaha hidup kembali padahal telah aku coba abaikan berulang-ulang kali,begitu pikirnya.

Dari rentetan kegagalan ini ia berfikir, mungkinkah romantika adalah hal yang mungkin terjadi untuknya? Dia tidak menginginkan kejadian romantika seperti yang di film-film, ia hanya memerlukan sosok yang pribadi  untuknya berbagi hal-hal yang tidak mudah ia ungkapkan kepada orang lain, tempatnya menaruh peluh sejenak dari dunia yang begitu memberatkan dan ia ingin menjadi orang yang mampu membuat hal yang sulit menjadi mudah dihadapi. Dan ia telah memilih laki-laki itu.

Namun yang dicinta malah tak kunjung acuh. Salahkah? Siapa yang salah? Siapa? Siapa? Siapa?

Dan dalam keremangan malam dengan punggung tersandar di kursi, ia tertidur dengan membawa sejuta pertanyaan yang tak kunjung jua ditemukan ujung penyelesainnya. Siapa? Siapa?Siapa? Siapa yang salah? Siapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s